SAMA ENAKNYA SAMA RIBETNYA. Jangan pernah menjawab pertanyaan 'Kapan nih undangannya? Ditunggu ah!' dengan 'Undangan apa?' dengan mimik sok polos, seolah nggak tahu kemana arah pertanyaan tersebut. Kamu kuno ah, kalau jawabannya masih gitu. Sudah jelas banget lah ya, yang ditanya undangan kawin, eh, nikah, bukan undangan khitanan. :))
Biasanya kalau menghadapi pertanyaan seperti itu saya cuma nyengir saja. Walaupun saya gatel banget pengin jawab 'Emang kalau gue nikah, gue mau ngundang lo?' - ih iya loh, pertanyaan seperti itu kok ya GR banget, yakin bakal diundang. :D
Okeh, ngomongin soal undang-mengundang; dua tahun lalu, kawan saya menikah dan nggak ngundang-ngundang. Hal ini berhasil menimbulkan gunjang-ganjing di dunia pergaulan *halah*. Saya sih nggak ikut heboh, soalnya mereka sempat bilang kalau mereka akan menikah dan nggak pakai ada resepsi-resepsian (dan kata mereka : 'Kalau mau kasih angpau boleh kok dari sekarang.' :D )
Alasannya : males ribet.
Dan kehebohan dimulai ketika mereka mengubah relationship status mereka menjadimarried di Facebook. Nah lo, dari situ, bermunculanlah komentar-komentar, yang pada intinya sih mengucapkan selamat, tapi dengan bonus protes 'kok nggak ngundang-ngundaaang?'
Kawan saya, dasar cuek bilang 'emang gue gak ngundang-ngundang.'
Saya pikir, ya sudahlah ya, perkara kawin nggak ngundang-ngundang itu bakal berhenti di komentar facebook. Eh ternyata, enggak juga dong! Saya mendengar selentingan kabar buruk tentang pernikahan mereka. Ada yang bilang sudah hamil duluanlah, ada yang bilang pernikahannya bermasalah sampai nggak dapat restu-lah dan lain-lain. Hadeuh, itu pada kebanyakan nonton sinetron kali ya? :D
Selentingan kabar nggak enak itu --- entah bagaimana caranya --- akhirnya sampai juga ke telinga dua pengantin baru ini.
Keduanya agak sewot juga sih, di salah satu sesi ketemuan kami pasca pernikahan, mereka mengomel panjang pendek 'Nu kawin aing, duit-duit aing, kumaha aing we atuh!' (artinya? Coba deh tanya sama kawan Sunda masing-masing :D)
Lalu mereka pun menceritakan alasan mereka memutuskan untuk menikah nggak rame-rame.
'Nggak ada budget buat begitu-begituan. Nyicil rumah, isinya dan mobil bow! Kalau ngundang-ngundang kagak kelar-kelar cicilan.' kata mereka. Sampai situ saya merasa alasan mereka masuk akal. Masuk akal banget, malah. Lah iya, lah ya, kehidupan pernikahan yang sebenarnya kan ya setelah tetek bengek seremoni melegalkan pernikahan? Nggak lucu kalau buang-buang duit di seremoni-nya lalu melarat di kehidupan selanjutnya.
Kata mereka, keluarga dan orang-orang terdekat sangat tidak setuju. Katanya, pernikahan itu sekali seumur hidup, makanya wajar jika dipestakan (walaupun kecil-kecilan), semacam berbagi kebahagiaan pada orang-orang terdekat. Tapi dasar kekeuh, keduanya tetap tidak mau.
'Biarpun pestanya dibilang kecil-kecilan, duit yang keluar jutaan juga, kalii.' kata mereka.
Ya sempat terjadi friksi antara mereka dengan keluarga besar. Ada anggota keluarga yang bersedia mendanai. Wih, dua orang ini kan gengsian setengah mati; sudah jelaslah tawaran tersebut ditolak. Ada menyarankan agar ia meminjam dari bank. Ih sumpah loh, saya baru tau kalau ternyata bank memberikan fasilitas pinjaman (resepsi) pernikahan.
Si dua orang keras kepala ini, teteub kekeuh menolak.
'Daripada gue minjem buat resepsi, mending minjem buat rumah kali nggak? kalau rumah ada bekasnya, kepake seumur hidup. Lah kalau pesta-pesta, cuma sehari kan? Sudah itu lewat, cuma terekam via video dan album foto. Lagian masa sih mengawali kehidupan pernikahan dengan hutang banyak? Gue udah ngutang buat rumah, mobil, ditambah ini. Ga kebayang ribetnya idup gue ntar.'
Err, bener juga sih. Saya sering banget memikirkan hal yang sama, terutama jika menghadiri resepsi pernikahan. Ini duit berapa banyak sih yang kebuang buat acara sehari doang? Dan agak sedih juga melihat tamu-tamu yang nggragas, mengambil banyak jenis makanan, tapi tidak menghabiskannya. Buang-buang makanan.
(kecuali kalau kamu anak pejabat ya, konon katanya dari angpau para tetamu sesama pejabat juga, balik modal malah masih menangguk keuntungan kok. Ih, jadi gosip.)
Ya akhirnya kedua keluarga inti mereka setuju, mereka menikah, dihadiri hanya oleh keluarga inti, dan keluarga terdekat.
Buat saya, pemikiran dua kawan rock 'n roll ini benar dan masuk akal. Tapi kalau dengar cerita betapa susahnya mereka mempertahankan pendirian untuk tidak berpesta-pesta, PLUS gosip-gosip yang bersliweran gara-gara tidak ngundang-ngundang, kok jadinya yang 'benar dan masuk akal ini' terkesan ngaco dan nggak benar ya?
Jangan-jangan dalam benak masyarakat, kalau mendengar kata 'menikah' yang kepikir hanya resepsinya saja? Terlupa bahwa ada kehidupan yang baru setelah itu, yang harus diurusi - dan urusannya mau nggak mau butuh uang? Makanya, karena pemikiran tentang pernikahan mentok sampai 'resepsi', ya yang kepikir, habiskan duit buat resepsinya! :D
Mbuh lah. :D
Ini tahun ke-dua mereka menikah. Sudah punya rumah, sudah punya mobil, dan program hamil-nya berhasil. Yang perempuan sedang hamil enam bulan.
Suara-suara negatif tentang 'kenapa nikah nggak ngundang-ngundang' ini agak berkurang, karena harapan mereka menerima kabar melahirkan kurang dari 9 bulan setelah pernikahan tidak terkabul.
Cuma gosip tentang hubungan tak direstui tersebut belum hilang. Soalnya mereka berdua jarang mengunggah foto-foto berbahagia bersama keluarga besar sih. :D
Sumber gambar :
gettyimages.com